Senin, 31 Oktober 2011

Peluk Aku, Saat ini.


Aneh. Baru beberapa jam yang lalu aku memelukmu dan kita bercengkrama tentang dunia kita. Juga masih terasa deru angin serta hangat punggungmu yang ku dekap erat saat kau mengantar ku pulang... (Meskipun kata “pulang” tak tepat jika menyangkut tentang kita. Pulang untuk ku, untuk kita, adalah ketika kita bertemu dan bersama).
Tapi kini aku telah merindukanmu. Sangat.
Berharap kau disini, bersamaku, memelukku erat. “Tak apa-apa, semua baik-baik saja.” Aku ingin kau membisikkan kata-kata itu ditelingaku.

Aku diselubungi perasaan sedih yang tak kumengerti. Semua hal disekitarku, mampu membuatku meneteskan air mata. Sepi yang entah dari mana mulanya...
Mungkin jika kau ada disini, kau akan menertawakanku. Seperti biasa jika perasaan seperti ini menyelubungiku, kau akan mengejek ku dengan berbagai sebutan yang kau berikan untukku. Cengeng, penyedih, labil, sensitif, melodrama, dan banyak ejekan lainnya.
Aku tak peduli!
Aku ingin kau malam ini!
Karena meski kau menertawakanku, mengejekku, kau pun nantinya akan memelukku dan menenangkanku...

Bolehkah aku menelfonmu? Aku tahu kau telah tertidur karena keletihan akibat mengendarai motor menembus malam dari Makassar ke Bili-bili. Ya, kau pasti telah tertidur dan aku tak mungkin mengganggumu dengan masalah ketidak stabilan emosiku ini.
Lalu izinkan nyawaku terbang kesisimu dan menyatu dalam pelukanmu sayang. Karena aku butuh itu.

Nb: Rabu depan kau akan “pulang” bukan?
Aku menantimu.

Selasa, 18 Oktober 2011

Gambar 2 Mingguan ini




*Sekali lagi bermain dengan pensil dan pensil warna

Jumat, 07 Oktober 2011

Flash Back

Di titik ini pertama kali kita bertemu. Mungkin sebuah takdir, jalan yang  kita lalui bersinggungan. Ketika itu mobil yang masing-masing kita kendarai berpapasan. Mata kita bertemu. Saat itu aku merasa mengenalmu, sepersekian detik saat pertemuan itu, kau tersenyum, aku hanya memandangimu.

Kemudian dipersimpangan itu, takdir mempertemukan kita kembali. Kau menghentikan mobil mu ketika melihatku sedang mengalami kesusahan dengan mobilku. Kau menyapa dan menawarkan bantuan juga pertemanan. Aku menerima uluran tanganmu.

Lalu pertemuan-pertemuan berikutnya membuat kita semakin dekat. Dan tanpa kusadari kapan mulainya, kita telah mengendarai mobil yang sama di perjalanan yang sama. Selama perjalanan itu, kita saling berbagi masa lalu. Kau pun mengenalku lebih dari siapapun, dan aku pun begitu. Tak kuasa perasaan ku berkembang. Aku mencintai kebersaamaan kita juga dirimu. Mungkin tidak seperti dirimu, cintamu kepada ku bukanlah cinta yang egois seperti cintaku. Aku ingin terus bersamamu diperjalanan ini dengan mengendarai mobilmu. Aku tidak peduli jika ada perasaan lain yang terluka bahkan jika itu perasaanku, asalkan aku bersamamu.  Aku cuma ingin bahagia denganmu, persetan dengan yang lainnya. Fikirku, bersama, kita dapat menghadapi rintangan diperjalanan ini. Tapi kau tidak berfikir seperti itu. Kau terlalu mencintaiku, tidak ingin seujung jariku pun terluka. Tidakkah kau tahu aku bukanlah perempuan yang lemah sayang?

Kau menghentikan kendaraan ini disuatu tempat yang terpencil. Kemudian sebuah rumah kau bangunkan untukku. Di tempat ini aku akan aman, katamu. Tidak akan ada manusia-manusia dalam perjalananmu yang akan menemukanku dan melukaiku disini. Kau menginginkan aku berjalan dengan kendaraan ku sendiri dalam perjalanan kita. Rumah ini, biarlah menjadi tempat pertemuan kita. Tempat melepas lelah dan rindu. Setiap tawa, canda, amarah, kekecewaan, dan air mata kita curahkan disini. Kita sepasang kekasih ditempat ini. Hanya ditempat ini. Diluar, kita adalah orang asing.

Saat keadaan semakin memburuk, kau memilih pergi dan tidak pernah menginjakkan kaki lagi ditempat ini. Berkendara dan melaju meninggalkan ku disini. Tempat yang aman untuk ku, katamu. “Aku akan menunggumu.” Kataku saat itu. “Tidak! Jangan tunggu aku, berbahagialah. Aku tak yakin bisa bertahan dibagian perjalanan ini.” Aku cuma bisa memandangmu melaju kencang, menghilang dari hadapanku…

Bagaimana kabarmu saat ini? Aku berusaha mendapatkan informasi tentangmu. Sekelebatan tindakanmu kuketahui. Aku bahagia, karena kau masih ada, masih bertahan dibagian perjalanan yang sulit dan melelahkanmu ini. Aku tak sadar, pencarianku tentangmu, membawa mereka-mereka kepadaku. Membuat mu panik dan dalam usaha untuk menyelamatkanku, membuatmu hampir terbunuh. Maaf…

Tapi hal itu membuatmu, mungkin menyadarkanmu, untuk memintaku menunggumu. “Sedikit lagi, jika aku bertahan, maukah kau menungguku sedikit lagi?” Katamu sebelum kita berpisah…

Sehari…

Sebulan…

Setahun…

Aku menunggu dan terus menunggu… Aku tak memiliki informasi apapun tentangmu. Kau bagai hilang ditelan bumi. Aku takut terjadi sesuatu kepadamu dan aku takut berfikir sesuatu terjadi kepadamu…

Sore itu, dititik segalanya bermula… Dua mobil yang sama pada kondisi yang sama berpapasan. Sepersekian detik, aku memandangmu, kau tersenyum. Terdiam, aku merasa mengenal orang itu…


*Terinspirasi setelah menonton Drama Korea, "City Hunter"

Selasa, 04 Oktober 2011

I Liked the Jackfruit

Ini salah satu untungnya punya pacar petani, segala hasil bumi yang ia tanam, pasti kita kebagian. Kali ini saya dibawakan nangka....

 Nangka yang sudah ku kupas, sukses membuat tangan dan muka saya belepotan getah.


Dari dekat! So yummy....


Dan yang paling saya suka dari nangka adalah BIJI-nya :D Disajikan dengan direbus! Nyam nyam nyam



Makasih sayang untuk nangkanya :*

Share It