Selasa, 19 Oktober 2010

Akhirnya Dia Melawan

Akhirnya dia melawan...
Dia juga berteriak dan mengeluarkan unek-uneknya.
Akhirnya...
Dia bangkit dari penjajahan atas dirinya. Dia melawan.

Aku tersenyum mendengarnya kemarin.
Aku bahkan ingin tertawa melihat penjajahnya terpekur tak mampu berbicara.
Aku turut senang atas merdekanya ia.

Selama ini dia hanya manut dan diam saja.
Tapi kali ini dia melawan dan aku bersorak menyemangatinya.

Rasakan!!! dan kau wahai penjajahnya, kami bukan barang, oke!!!

Ketika Saya Mendapatkan SP

Awalnya saya bertanya, MENGAPA? Toh SKS yang kucapai 49 SKS lebih 1 SKS dari batas DO yang hanya 48 SKS.
Katanya, "Dulu ada 2 mata kuliah yang nilainya terlambat masuk, sehingga yang tercatat dan di kirim ke rektorat hanya 46 SKS yang lulus." Loh itukan bukan salah saya, salah dosennya dong yang terlambat masukin nilai ku. Salah akademiknya juga yang gak nyantumin nama ku dikuliah itu, padahal saya sudah belanja KRS. Kok saya yang disusahim?!!

Saya tetap di suruh buat surat pernyataan kalau semester ini wajib melulusi 60 SKS kalau tidak bakalan DO (kyak saya peduli saja) dan harus tanda tanggan pake metrai 6000. Saya sangat tidak ikhlas. Enak saja, pencemaran nama baik nih :p . Pengen nuntut fakultas dan jurusan ku kalau begini!!!

Katanya Atas Nama Rakyat, Kok Nyusahin Rakyat?


Aku kesal!!! Emosi!!! Hari ini aku ada Mid Metode Penelitian Sejarah dan Budaya Jepang, tapi harus sukses terlambat mengikuti Mid gara-gara Mahasiswa UMI memblokir jalanan. Hampir sejam saya terjebak macet akibat ulah mereka. Mereka gak bisa demo baik-baik ya? Mereka gak bisa demo tanpa membakar ban ya? Gak sadar apa, mereka menyumbang kerusakan iklim bumi. Mereka gak bisa demo tanpa memblokir jalan ya? Emang mereka pikir jalan itu punya mereka saja apa!!!

Okelah kalau mereka memang punya alasan untuk berdemo, tapi haruskah menyusahkan pengguna jalan?!! Mereka berdemo atas nama rakyat, tapi rakyat kecil malah resah. Sebagai contoh ya, supir pete-pete yang saya naikin curhat, katanya gara-gara mereka demo, mereka merugi karna gak bisa ambil penumpang dan bensin terbuang percuma karena harus memutar lewat jalan lain. Inikah tindakan untuk membela rakyat?!!!

Merekakan mahasiswa, kaum terpelajar, gak bisa apa beraspirasi dengan cara yang terpelajar??? Apa yang mereka pelajari selama ini??? Alangkah baiknya bukan jika mereka menulis pikiran mereka, aspirasi mereka dan masukkan ke koran??? Aman bukan? Dan pastinya gak nyusahin rakyat dan terlebih gak nyusahin saya.

Menurut saya aksi mereka kampungan, dan lebih berunsur politik dari pada membela rakyat.


Senin, 04 Oktober 2010

Peraturan GOBLOK para patriarki


Baru-baru ini saya menonton di TV, kalau nanti untuk masuk perguruan tinggi harus melakukan tes keperawanan. Saya kaget dong ya... Kok harus begitu? Rasanya sangat bias. Loh bagaimana dengan laki-laki yang tidak perjaka lagi? Gak dites kan?!! Gak tau juga kan gimana tesnya?!! Jangan diskriminan deh. Seakan akan anda berkata kalau moral perempuan hanya bisa dibuktikan dengan perawan tidaknya kami. Bagaimana dengan mereka korban pemerkosaan??? Gak boleh kuliah?!! Gak mikir deh yang buat usul ini. Lagian selaput darah itu sangat rentan, gampang robeknya, gak harus melakukan hubungan intim pun bisa robek. Bagaimana bila mengalami kecelakaan dan selaput darah itu robek juga??? Gak boleh kuliah juga?!!! GOBLOK!!! *emosi*. Apa mereka gak pake otak ya buat rencana peraturan ini?

Mereka juga gak tau UUD 1945 ya??? Jelas-jelas tertulis pada pasal 31 ayat 1; "Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran". Apakah disana tertulis bahwa yang tidak perawan lagi tidak boleh mendapatkan pendidikan??? TIDAK!!! Itu hak kami untuk mendapatkan pendidikan, tidak perduli kami masi perawan atau tidak. Ingat itu sebelum membuat peraturan.

Share It